Rabu, 29 Agustus 2012

Karena Cinta Itu Aku menyesal (Cerpen)


Karena Cinta Itu, Aku Menyesal !

Aku menangis, mendekap segenap hayalan, kaki ini benar-benar lumpuh, bukan hanya karena syarafku tak lagi aktif, tapi juga karena jiwaku telah tertikam belati begitu dalam, kawan…. Coba dengar secuil kisahku yang mengharukan, tentang kehilangan, tentang kesedihan, ini tentang benih cintaku yang hilang, belum sempat tumbuh, dan telah layu….

####   
Namaku Gilang Astu Ahmadi, Aku hidup bersama nenek, kakek dan abangku di sebuah rumah di wilayah Landung sari Malang. Entah kenapa Ayah dan ibuku lebih percaya menitipkan kami pada nenek dan kakekku daripada harus membawa kami kembali ke kota Metropolis Jakarta itu, aku sering berpikir bahwa kami dibuang dikota ini, tapi pikiran itu lambat laun luntur, ketika setiap Lebaran, orang tua kami masih datang mengunjungi kami. Abangku bernama Ilham Eka Ahmadi Sekarang ia telah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Malang, sedangkan aku masih sekolah di SMA Negeri di daerah Landung Sari. Kini Hidupku telah bergantung pada KREK, tongkat yang menjadi simbol atas kecacatanku sejak sebelas tahun silam, kejadian itu terjadi  saat aku baru duduk dibangku sekolah Dasar, saat aku masih tinggal bersama orang tuaku di Jakarta, ketika itu, aku menunggu Abang di depan gerbang sekolah untuk menjemputku dari tempat sekolahnya, tapi yang terjadi malah seorang pengemudi Truk Tronton mabuk menabrak pohon besar didepan sekolah, siapa yang akan menyangka bahwa pohon itu akan roboh kearahku yang saat itu sedang duduk di atas dinding jalan. Sejak saat itulah kaki kiriku tak berfungsi sama sekali, aku cacat permanen, tapi aku masih sangat bersyukur karena nyawaku tidak ikut mati bersama ribuan saraf kakiku yang saat itu telah mati. Setidaknya aku memiliki beberapa mimpi yang masih bisa terwujud oleh seorang cacat sepertiku ini 
## 1 Tahun Yang Lalu 
Dipagi yang masih sunyi, aku menstarter Motor ‘Bebekku, bersiap berangkat ke sekolah, ini akan terasa sangat pagi untuk ukuran abangku yang baru akan berangkat ke kantornya pukul tujuh pagi, aku lebih akan memilih untuk tidak bertemu dan menyapa banyak teman jika aku harus berangkat kesiangan seperti yang lainnya, aku tipikal orang yang tak pernah ingin untuk sekedar berbasa-basi pada orang lain, apalagi untuk sesuatu hal yang kurasa tak berguna. Sampai di sekolah, aku parkirkan motorku di barisan terdepan, melewati lorong-lorong sekolah, sesekali melihat adegan dua sejoli bercinta di taman sekolah, di bawah pohon pinus rindang, bahkan di depan kelas yang masih terkunci, membiarkan diri mereka sebagai pusat perhatian banyak siswa yang satu persatu mulai berdatangan ke sekolah. Menjijikkan…
“ Lang, awakmu mau bengi neng éndi ” sebuah suara memecahkan keheningan pagi, suara yang tak lagi asing bagiku, Hafid si kècèng, dia adalah sahabatku dari SMP, sahabat terbaikku, sedikit kurus, makanya aku memanggilnya kècèng, ia penduduk daerah Ijen malang, Bapaknya pemilik rumah makan besar di kota batu, tak jarang aku mendapatkan gratisan jika mampir kesana, keluarganya begitu baik padaku. Aku dan Kècèng memiliki perbedaan bahasa yang mendasar, ia seorang yang humoris, suka cengengesan, sedangkan aku adalah orang kaku yang sama sekali tak mengerti bagaimana caranya untuk sekedar mencairkan suasana yang beku.
“ aku mampir cari makan cèng, tadi malem aku ngliat kamu kok, tapi kamu keliatane lagi sibuk “
“ ha..ha… awakmu iki iso ae ” tawanya mengakhiri candaan singkat kami, kemudian kami berjalan menuju kelas masing-masing, sejak naik ke kelas 2 setahun yang lalu, kami tak sekelas lagi, aku kecewa atas itu, tapi betul-betul menyenangkan memiliki sahabat sepertinya.
####
Udara Malang begitu dingin saat aku harus kehujanan dan akan pulang terlambat menuju rumah, dan semakin dingin ketika aku harus berpapasan dengan seoarang gadis yang selama ini kuhindari, Gadis itu…  Ia bernama Leta Paramitha Rahardi, gadis yang berasal dari keluarga berada, cantik, ramah, entah apa yang diinginkannya dari seorang lelaki cacat sepertiku ini, tapi yang jelas, dia selalu menghabiskan waktunya untuk menemui aku yang tak pernah ingin untuk ditemui. Pandangan kami bertemu saat tepat berada di depan Parkir sekolah.
“ kamu kok belum pulang? ” kudengar ia sekedar basa-basi padaku,
“ masih ada kegiatan “ jawabku singkat
“ mau aku bantu bawain barangmu?”
“ yang cacat kakiku, bukan tanganku ”
“ Angkuh banget kamu Lang “
 “ kamu sendiri, kenapa agresif banget jadi cewe’ “ aku tahu ucapanku barusan begitu keterlaluan padanya, hanya sekedar membantu, apa salahnya? Bodoh. Aku pandang matanya lekat-lekat, raut kecewa begitu tampak diwajahnya
 “ aku lihat tadi pagi di kelas, kamu bantu Iput ngepel lantai, di Lab kamu bantu Rio ngobatin tangannya, kamu juga bantu si Lukman dorong motornya, dan barusan kamu tawarin bantuan buat bawain barangku, hoby banget kamu bantu temen cowo’ mu, apa salah kalau aku bilang kamu terlalu agresif jadi cewe’ ? ” mencoba menjelaskan maksud ucapanku tadi, tapi kurasa ucapanku barusan malah semakin menyakitinya, aku menunggu reaksi apa yang dihasilkan

“ Kamu cemburu ya? “ ucapnya singkat, begitu lembut, aku melihat sebuah senyuman di bibir manisnya, beberapa detik kuhabiskan untuk memaknai pertanyaannya ini, apa maksud gadis ini…?
“ buat apa aku cemburu! “ tukasku, aku menghidari pandangannya dariku, berjalan meninggalkan dia menuju motorku, tak pedulikan begitu banyak barang bawaanku, aku tetap berjalan dengan bantuaan KREKku, sejurus kemudian dia berlari mencoba menahan jalanku, tapi kemudian….
“ Ta… sini cepet, uda mulai acaranya “ seorang temannya memanggil,
“ aku tinggal Lang, Hati-hati kamu “ ucapnya  mengakhiri ketegangan, ia berlari semakin jauh, semakin jauh… dengan mudahnya ia meninggalkanku dan bergabung dengan banyak temannya di lapangan sekolah, meninggalkanku bersama barang bawaanku, bodohnya aku….
####
Badanku terasa lelah, tadi malam aku baru sampai dirumah pukul tujuh malam, hari ini pun, kurasa akan mejadi hari yang melahkan, karena aku harus mengurus keperluan penutupan peserta orientasi siswa kelas satu bersama anggota OSIS lain yang dijadwalkan malam ini acara itu harus rampung dan sekaligus sukses. Disekolah ini, aku masih dipercaya banyak guru menjadi murid kesayangan mereka, kukira aku biasa-biasa saja, tapi terakhir kali, aku menyabet  juara 1 Olimpiade SAINS nasional di Jakarta, bukan aku tak ingin menjadi pelari handal, tapi memang fisikku lah yang membatasi itu. di lorong sekolah aku harus berpapasan lagi dengan gadis itu, kini aku berjalan mencoba menghindarinya…….
“ salahku apa Lang, kamu jijik sama aku? Sampai setiap aku deketin, kamu slalu nge’hindar?“
“ gak ada yang salah dari kamu ! ” aku berjalan meninggalkan gadis didepanku ini
“Aku belum selesai ngomong sama kamu” tangannya halus, jemarinya yang putih lembut menahan jaketku dengan sangat kuat, apa mau gadis ini…?
“ Apa…! ” bentakku
“ kenapa kamu selalu pengen lari tiap aku samperin, salahku apa Lang… ? “ ucapnya memelas
“ salah kamu adalah selalu ngejar-ngejar aku ” aku menghempas pelan genggamannya di lengan jaketku, aku terus berjalan dengan bantuan KREKku, aku lebih akan muak jika harus menyaksikan tangisannya, sadarkah…  aku telah begitu kejam padanya…
#####
Semalam, acara berjalan sesuai rencana kami, gadis itu juga ikut andil dalam kesuksesan acara tadi malam, menjadi pemeran utama dalam Film Indie Sekolah seharusnya membuat semua mata tertuju pada sosok cantik itu, tapi entah kenapa aku tak pernah mau peduli dengan semua itu. Dan Gadis itu lagi-lagi menghampiriku, kini saat aku sedang duduk didepan kelas, kukira kejadian kemarin seharusnya cukup membuatnya jera untuk mengejar-ngejar aku, tapi anehnya gadis ini malah mengambil KREKku dan meletakkannya di pangkuannya.
“ tadi malam kamu kemana, gak liat aku main yah..? “
“ yang ngliat kamu udah banyak kan? “
“ aku pengen kamu liat aku main, Lang “
“ ngapain kamu kesini ? “ ketusku
“ ya buat ketemu sama kamu ”
“ Cuma ngomongin masalah ini ?“
“ aku mau ngobrol banyak sama kamu, Lang “
“ aku laper, mau ke kantin“
“ yaudah kalo gitu aku ikut kamu ke kantin yah ”
“ terserah, balikin KREKku dulu”

####
Berjalan berdampingan membuat banyak teman memandangi kami, membuatku semakin risih, sesekali kulihat langkahnya ditahan, saat aku mengindari jalan berbatu yang membuat langkahku semakin pelan, ingin mencoba membantu, tapi mungkin ia sudah tahu aku takkan mau untuk dibantu. Entah apa yang aku pikirkan hingga aku ijinkan ia mengikutiku. Dan sesuai dugaanku banyak siswa di kantin, memandangi kami bahkan dari mereka menyoraki kami, tapi tak sedikitpun kulihat ia terganggu dengan suara-suara itu.
“ kok bengong katanya lapar…  ” ucapnya membuyarkan pikiranku
“ Buk, sarapan kaya’ biasanya “
“ saya teh hangat buk “ ucapnya mengikuti
Sarapanku kali ini terasa berbeda, ada sebuah senyuman yang kulihat dari tadi memperhatikanku, sekarang aku tahu, kenapa gadis ini sengaja hanya memesan Teh hangat. Ingin sekali rasanya berteriak untuk mengenyahkannya dari hadapanku, tapi lagi-lagi ada sebuah senyum yang menjeratku….
“ ngapain kamu ngliatin aku kaya’ gitu “ ketusku
“ kamu manis kalo lagi makan Lang “
“ kamu jadi cewe’ agresif banget sih, Eneg aku dengernya “
“ Aku gak bakal seagresif ini Lang, kalau kamu mau ngobrol bentar aja sama aku “
“ kamu pikir dari tadi kita ngapain? “
“ tapi keliatan banget kamu gak nyaman ngobrol sama aku“ ungkapnya sambil melemparkan senyum kearahku, aku terdiam, sejenak berpikir ingin membalas ucapannya, tapi aku tak mau lagi-lagi menyakiti hati gadis ini.
“ kenapa diem, aku tahu kamu cuma menghindar dari aku, Lang, sama yang lain kamu biasa aja.. “ ucapannya seperti ribuan petir yang menjalari otakku
“ kalau udah tahu kenapa masih ngejar-ngejar? “ aku berkata seadanya
“ aku juga gak tahu, padahal kamu orangnya Jutek, nyebelin, kaku, gak asik, tapi tetep aja aku ngejar-ngejar kamu Lang… “ timpalnya dengan sebuah senyuman yang mengikuti
“ maafin aku “
“ maafnya diterima kok, tenang aja ”
ucapnya yang  mengakhiri perdebatan panjang kami, ternyata gadis ini tak seburuk yang kukira, caranya bertutur, memelas, tersenyum membuatku bingung memaknai apa yang saat ini kurasa. Perasaan apa ini…..
####
“ behg… ke’opo Lang rasane mangan bareng Leta ? “ suara Kècèng memecahkan kesunyian kelasku saat mengerjakan tugas guru yang tak hadir di jam terakhir ini. Sontak seluruh kelas langsung bergemuruh bersorak, padahal kukira mereka semua telah lupa peristiwa tadi pagi, dasar si Kècèng….
“ gak ada rasa apa-apa ” ketusku sambil meneruskan tulisanku
“ awakmu iki ke’opo si Lang, disenengi arek ayu kok malah gak seneng ngono“
 “ malu-maluin aku aja kamu Cèng” aku kembali beradu dengan tugasku, tak pedulikan omongan Kècèng barusan, karena semakin mengingat kejadian tadi pagi, semakin risih aku dibuatnya.
####
Udara malam kota Malang sehabis hujan begitu dingin, membuatku harus melapisi kaosku dengan jaket yang agak tebal, selarut ini aku masih duduk didepan rumah, mungkin untuk menunggu butir-butir hujan akan benar-benar habis di langit malam, atau karena gadis itu, atau apapun itu, yang jelas akan membuatku sulit tidur untuk malam ini.
####
“Panggungnya uda kelar Ron?” tanyaku pada Roni, teman satu kelasku yang kebetulan sama-sama menjadi anggaota OSIS, Lagi-lagi kegiatan sekolah membuatku harus tertahan disekolah hingga sore, hanya tinggal beberapa anak yang masih tampak berkeliaran disekolah.
“Udah, Lang, tinggal nunggu kursinya dianter besok”
“ oh, yaudah aku pulang duluan kalo gitu “
“ yo, hati-hati Lang”
Aku berjalan pelan menuju tempat parkir, dan Tuhan…. Lagi-lagi aku harus bertemu dengan gadis ini, kini kulihat ia semakin mendekat ke arahku.
“ Gilang, aku boleh minta tolong”
“ minta tolong apa?”
“ ini, ban sepedaku bocor, sekarang aku mau taruh di tambal ban seberang jalan itu, tapi terus… aku boleh nebeng kamu gak?”
“ kenapa gak nebeng yang lain aja ” jawabku enteng
“ aku mau nebeng sama kamu Lang… ”
“ aku mau buru-buru pulang”
“ tapi, aku cuma nebeng sampe’ depan pertigaan Lang, jadi aku gak harus nyita waktu kamu kan?”
“ yaudah!! “
“ yaudah, maksudnya?”
“iya, ayo… ” akhirnya, aku harus kalah berdebat dengan gadis ini, membuatku kini betul-betul ada dalam situasi yang selama ini begitu kuhindari, memuakkan…
####
Malam ini udara kota Malang yang dingin serasa menusuk-nusuk kulitku, sengaja motor ini kupelankan agar ia tak berpegangan padaku, tak ada perbincangan apapun, menambah senyapnya jalan yang tak begitu ramai dilewati orang, hanya ada beberapa warung-warung kecil di pinggiran jalan. Sesekali aku lirik wajah manisnya di kaca spion motorku, hanya sekedar memastikan bahwa ia masih benar-benar ada di atas motorku. Aku kembali berkonsentrasi pada setir, tapi kemudian dari arah kiri seorang ibu-ibu menyeberang jalan dengan tiba-tiba. Sontak aku langsung mengerem motorku, dan yang terjadi aku terpelanting sampai ke sisi jalan, KREK yang kupegang di tangan terlempar agak jauh, badanku terasa saki semua, sikuku sedikit lecet, dan….
“ Ya Allah… Leta…” aku cepat meraih KREKku, setengah berlari mencarinya, aku melihatnya telah duduk di seberang jalan sambil mengibas seragamnya yang telah kotor tersabet aspal jalan, beberapa orang pedagang mulai mengerumuninya, memebuatku harus sedikit menyibak kerumunan itu
“ Ta, kamu gak apa apa? Apa ada yang luka? “
“ gak apa-apa kok Lang, Cuma pusing dikit, kamu sendiri gimana? ”
“ alhamdulilah, aku sih gak apa-apa, kamu minum dulu yah..”
“ gak usah Lang, kita pulang aja, katanya kamu buru-buru pulang? “ aku tertegun, memandangi gadis didepanku ini
“ tapi kamu gak apa-apa beneran kan Ta?”
“ gak apa-apa, Lang…”
“ kamu minum ini dulu Ta, aku periksa motorku, baru kita pulang “ ia meminum air yang diberikan seorang pedagang di warung pada kami, dan setelah memastikan bahwa tak ada kerusakan yang berarti dengan motorku, aku mengajaknya untuk pulang, tangan kanannya terasa melingkar di pinggangku, tak ada perlawanan yang kulakukan, karena aku berpikir mungkin ia hanya takut terjatuh seperti yang kami alami barusan.
“ rumah kamu dimana Ta? “
Setelah mengikuti arah yang ditunjukkannya, akhirnya kami sampai di rumah besar bercat krem, di daerah perbukitan, di Perumahan Kampus Malang
“ makasih Lang, udah mau nganter sampe’ depan rumah “
“ iya, sama-sama ”
 “ kamu kenapa mau nganterin sampe’ sini? katanya mau buru-buru pulang? “
“ ya masak abis jatuh, aku turunin kamu di pertigaan tadi ” jawabku enteng
“ berarti kalo gak jatuh kamu bener-bener nebengin aku sampe’ pertigaan Lang? ” ucapnya bernada tinggi
“ lha, berarti dari tadi kamu ngarep aku anterin sampe’ depan rumah yah?” mendengar ucapanku barusan ia tertawa kecil, aku pandangi ia lekat-lekat….
“ kamu manis Lang, sedikit ganteng lah.. dikit tapi…! ” ia mulai memuji
“ kata anak-anak kamu juga cantik, manis, baik… ehm.. pinter dikit lha… “ balasku
“ kenapa kata anak-anak? ” kemudian aku tersenyum melihat reaksi gadis ini barusan
“ soalnya aku ragu-ragu sama mereka” mendengar ucapanku ia lalu tertawa sambil memegangi lengan kiriku begitu manja…
“ kamu lucu Lang”
“ baru kamu yang bilang gitu”
“ aku sendiri baru tahu kalo kamu bisa nge’lucu”
“ aku gak lucu, tapi mungkin sangking kamu ngefansnya sama aku, sampe’ semua keliatan lucu buat kamu” ucapku asal
“ ih… GR banget sih…” senyumannya lagi-lagi menjeratku…
“ udah malem Ta, aku pulang dulu ” ucapku sedikit gugup
“ Gilang, udah lama aku suka sama kamu ” gadis ini tiba-tiba menjerat lengan kiriku, mematikan aku dengan ucapannya yang agak keras barusan, aku begitu gugup, lidahku keluh, bibirku membeku, aku benar-benar tak tahu harus berucap apa padanya…
“ oh ya, tadi kamu gak pake Helm  Ta, apa..  kepala kamu masih pusing?” ucapku asal, terdengar suara detak jantungku yang benar-benar berdetak kencang….
“ masih ” jawabnya singkat sambil mengelus kepala
“ kamu pikir aku bercanda Lang? ” lanjutnya seperti tak ingin menghentikan pembicaraan
“ iya.. ? ” jawabku enteng
“ terserah lah, paling gak.. kamu udah tahu kenapa selama ini aku ngejar-ngejar kamu Lang “ aku hanya tersenyum pahit pada gadis didepanku ini, aku benar-benar kehabisan kata-kata didepannya, bahkan tak mampu untuk menatap mata gadis ini
 “ dan… aku juga pasti bakal kengen banget sama senyum kamu yang barusan Lang“ ia kembali tersenyum manis...
####
sebuah senyuman darinya terasa menghangatkanku diperjalanan pulang malam ini, senyum yang kubawa sampai  rumah, hingga terlelap, dan kembali terbangun…. Aneh, senyum itu masih ada.
####
Kurasa beberapa tugas dari guru akan membuatku sibuk malam nanti, ada sesuatu yang membuatku merasa kehilangan, gadis itu… ia tak kulihat sejak jam istirahat tadi,  juga senyumnya yang entah kenapa begitu kurindukan, aku mulai manata bukuku kedalam tas, karena barusan seorang guru piket datang hanya membawa tugas dari seorang guru yang tidak hadir siang ini. Karena dua jam lagi bel pulang dibunyikan, kelas begitu ramai, beberapa anak tidur, beberapa lagi sibuk beradu argumen, sedangkan aku sendiri masih berusaha mengenyahkan wajah gadis itu bersama senyumannya yang masih terbayang-bayang. Tiba-tiba beberapa guru masuk ke dalam kelas dengan wajah penuh keseriusan…..
“Assalamu’alaikum Warahmatullah… Inalilahiwainalilahiroji’un, telah berpulang ke rahmatullah, murid, teman, sekaligus sahabat kita, yang bernama Leta Paramitha Rahardi kelas Dua belas IPA 1 pukul 06.00 tadi pagi di kediamannya, anak anak… sepatutnya kita turut berbela sungkawa atas meninggalnya teman kita ini, diharapkan untuk pihak yang berkepentingan agar segera berkumpul di ruang OSIS, terimakasih “ badanku tiba-tiba gemetar, pandanganku nanar, pikiranku tak lagi berarah, tubuhku tiba-tiba kaku, gadis itu… ! ia benar-benar tak memberi aku kesempatan untuk sekedar mengucap maaf, membuatku mematung untuk saat yang lama, air mata bahkan tak bisa kutahan lagi setelah kelas benar-benar bersih dari orang, tiga jam berlalu, hingga yang aku tahu hafid mengantarkanku sampai rumahku sore itu, aku benar-benar tak memiliki tenaga bahkan untuk bicara.
####
Aku hanya duduk mematung didalam kamarku, bahkan aku tak berani untuk sekedar melepas kepergiannya pagi tadi, andai ia tahu bahwa kecacatanku membuatku tak memiliki banyak nyali untuk membalas perasaannya padaku, mungkin penyesalanku akan terasa berbeda saat ini. Leta… kini nama itu kusebut ratusan kali didalam tangisku, aku begitu lemah, rasanya tak sanggup lagi berdiri walaupun dengan tongkat KREKku, aku menangis, terduduk di sudut kamarku, mengguguk, menutup mukaku yang tlah basah oleh airmata, sesekali menyandarkan kepalaku pada sisi ranjang, tak ada satu orang pun yang akan tahu bagaimana menderitanya aku setelah ini, setelah ditinggal seorang gadis yang bahkan belum sempat menerima kata maaf dariku, aku bodoh karena terlalu meragukan perasaannya padaku, karena kebodohanku itu, kini aku merasa telah banar-benar kalah dengan kecacatanku, aku malu mengakui bahwa ia benar-benar mampu menjeratku, karena kebodohanku pula, aku baru menyadari bahwa apa yang aku rasakan selama ini adalah sebuah cinta…! cinta pertama, belum sempat tumbuh… dan telah layu. Kini… karena cinta itulah… aku begitu menyesal….!
Selesai.



By : Manggalie Utamaningrum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar