Karena
Cinta Itu, Aku Menyesal !
Aku menangis, mendekap
segenap hayalan, kaki ini benar-benar lumpuh, bukan hanya karena syarafku tak
lagi aktif, tapi juga karena jiwaku telah tertikam belati begitu dalam, kawan….
Coba dengar secuil kisahku yang mengharukan, tentang kehilangan, tentang
kesedihan, ini tentang benih cintaku yang hilang, belum sempat tumbuh, dan
telah layu….
####
Namaku Gilang Astu Ahmadi, Aku
hidup bersama nenek, kakek dan abangku di sebuah rumah di wilayah Landung sari Malang.
Entah kenapa Ayah dan ibuku lebih percaya menitipkan kami pada nenek dan
kakekku daripada harus membawa kami kembali ke kota Metropolis Jakarta itu, aku
sering berpikir bahwa kami dibuang dikota ini, tapi pikiran itu lambat laun
luntur, ketika setiap Lebaran, orang tua kami masih datang mengunjungi kami. Abangku
bernama Ilham Eka Ahmadi Sekarang ia telah bekerja di sebuah perusahaan swasta
di Malang, sedangkan aku masih sekolah di SMA Negeri di daerah Landung Sari.
Kini Hidupku telah bergantung pada KREK, tongkat yang menjadi simbol atas
kecacatanku sejak sebelas tahun silam, kejadian itu terjadi saat aku baru duduk dibangku sekolah Dasar,
saat aku masih tinggal bersama orang tuaku di Jakarta, ketika itu, aku menunggu
Abang di depan gerbang sekolah untuk menjemputku dari tempat sekolahnya, tapi
yang terjadi malah seorang pengemudi Truk Tronton mabuk menabrak pohon besar
didepan sekolah, siapa yang akan menyangka bahwa pohon itu akan roboh kearahku
yang saat itu sedang duduk di atas dinding jalan. Sejak saat itulah kaki kiriku
tak berfungsi sama sekali, aku cacat permanen, tapi aku masih sangat bersyukur karena
nyawaku tidak ikut mati bersama ribuan saraf kakiku yang saat itu telah mati. Setidaknya
aku memiliki beberapa mimpi yang masih bisa terwujud oleh seorang cacat
sepertiku ini
## 1 Tahun Yang Lalu
Dipagi yang masih sunyi, aku
menstarter Motor ‘Bebekku, bersiap berangkat ke sekolah, ini akan terasa sangat
pagi untuk ukuran abangku yang baru akan berangkat ke kantornya pukul tujuh
pagi, aku lebih akan memilih untuk tidak bertemu dan menyapa banyak teman jika
aku harus berangkat kesiangan seperti yang lainnya, aku tipikal orang yang tak
pernah ingin untuk sekedar berbasa-basi pada orang lain, apalagi untuk sesuatu
hal yang kurasa tak berguna. Sampai di sekolah, aku parkirkan motorku di
barisan terdepan, melewati lorong-lorong sekolah, sesekali melihat adegan dua
sejoli bercinta di taman sekolah, di bawah pohon pinus rindang, bahkan di depan
kelas yang masih terkunci, membiarkan diri mereka sebagai pusat perhatian
banyak siswa yang satu persatu mulai berdatangan ke sekolah. Menjijikkan…
“ Lang, awakmu mau bengi
neng éndi ” sebuah suara memecahkan keheningan pagi, suara yang tak lagi asing
bagiku, Hafid si kècèng, dia adalah sahabatku dari SMP, sahabat terbaikku, sedikit
kurus, makanya aku memanggilnya kècèng, ia penduduk daerah Ijen malang, Bapaknya
pemilik rumah makan besar di kota batu, tak jarang aku mendapatkan gratisan
jika mampir kesana, keluarganya begitu baik padaku. Aku dan Kècèng memiliki
perbedaan bahasa yang mendasar, ia seorang yang humoris, suka cengengesan,
sedangkan aku adalah orang kaku yang sama sekali tak mengerti bagaimana caranya
untuk sekedar mencairkan suasana yang beku.
“ aku mampir cari makan
cèng, tadi malem aku ngliat kamu kok, tapi kamu keliatane lagi sibuk “
“ ha..ha… awakmu iki iso ae
” tawanya mengakhiri candaan singkat kami, kemudian kami berjalan menuju kelas
masing-masing, sejak naik ke kelas 2 setahun yang lalu, kami tak sekelas lagi,
aku kecewa atas itu, tapi betul-betul menyenangkan memiliki sahabat sepertinya.
####
Udara Malang begitu dingin
saat aku harus kehujanan dan akan pulang terlambat menuju rumah, dan semakin
dingin ketika aku harus berpapasan dengan seoarang gadis yang selama ini
kuhindari, Gadis itu… Ia bernama Leta
Paramitha Rahardi, gadis yang berasal dari keluarga berada, cantik, ramah,
entah apa yang diinginkannya dari seorang lelaki cacat sepertiku ini, tapi yang
jelas, dia selalu menghabiskan waktunya untuk menemui aku yang tak pernah ingin
untuk ditemui. Pandangan kami bertemu saat tepat berada di depan Parkir
sekolah.
“ kamu kok belum pulang? ”
kudengar ia sekedar basa-basi padaku,
“ masih ada kegiatan “
jawabku singkat
“ mau aku bantu bawain
barangmu?”
“ yang cacat kakiku, bukan
tanganku ”
“ Angkuh banget kamu Lang “
“ kamu sendiri, kenapa agresif banget jadi
cewe’ “ aku tahu ucapanku barusan begitu keterlaluan padanya, hanya sekedar
membantu, apa salahnya? Bodoh. Aku pandang matanya lekat-lekat, raut kecewa
begitu tampak diwajahnya
“ aku lihat tadi pagi di kelas, kamu bantu
Iput ngepel lantai, di Lab kamu bantu Rio ngobatin tangannya, kamu juga bantu si
Lukman dorong motornya, dan barusan kamu tawarin bantuan buat bawain barangku, hoby
banget kamu bantu temen cowo’ mu, apa salah kalau aku bilang kamu terlalu
agresif jadi cewe’ ? ” mencoba menjelaskan maksud ucapanku tadi, tapi kurasa
ucapanku barusan malah semakin menyakitinya, aku menunggu reaksi apa yang
dihasilkan
“ Kamu cemburu ya? “ ucapnya
singkat, begitu lembut, aku melihat sebuah senyuman di bibir manisnya, beberapa
detik kuhabiskan untuk memaknai pertanyaannya ini, apa maksud gadis ini…?
“ buat apa aku cemburu! “
tukasku, aku menghidari pandangannya dariku, berjalan meninggalkan dia menuju
motorku, tak pedulikan begitu banyak barang bawaanku, aku tetap berjalan dengan
bantuaan KREKku, sejurus kemudian dia berlari mencoba menahan jalanku, tapi
kemudian….
“ Ta… sini cepet, uda mulai
acaranya “ seorang temannya memanggil,
“ aku tinggal Lang,
Hati-hati kamu “ ucapnya mengakhiri
ketegangan, ia berlari semakin jauh, semakin jauh… dengan mudahnya ia
meninggalkanku dan bergabung dengan banyak temannya di lapangan sekolah,
meninggalkanku bersama barang bawaanku, bodohnya aku….
####
Badanku terasa lelah, tadi
malam aku baru sampai dirumah pukul tujuh malam, hari ini pun, kurasa akan
mejadi hari yang melahkan, karena aku harus mengurus keperluan penutupan
peserta orientasi siswa kelas satu bersama anggota OSIS lain yang dijadwalkan
malam ini acara itu harus rampung dan sekaligus sukses. Disekolah ini, aku
masih dipercaya banyak guru menjadi murid kesayangan mereka, kukira aku
biasa-biasa saja, tapi terakhir kali, aku menyabet juara 1 Olimpiade SAINS nasional di Jakarta,
bukan aku tak ingin menjadi pelari handal, tapi memang fisikku lah yang
membatasi itu. di lorong sekolah aku harus berpapasan lagi dengan gadis itu, kini
aku berjalan mencoba menghindarinya…….
“ salahku apa Lang, kamu
jijik sama aku? Sampai setiap aku deketin, kamu slalu nge’hindar?“
“ gak ada yang salah dari
kamu ! ” aku berjalan meninggalkan gadis didepanku ini
“Aku belum selesai ngomong
sama kamu” tangannya halus, jemarinya yang putih lembut menahan jaketku dengan
sangat kuat, apa mau gadis ini…?
“ Apa…! ” bentakku
“ kenapa kamu selalu pengen
lari tiap aku samperin, salahku apa Lang… ? “ ucapnya memelas
“ salah kamu adalah selalu
ngejar-ngejar aku ” aku menghempas pelan genggamannya di lengan jaketku, aku
terus berjalan dengan bantuan KREKku, aku lebih akan muak jika harus
menyaksikan tangisannya, sadarkah… aku
telah begitu kejam padanya…
#####
Semalam, acara berjalan
sesuai rencana kami, gadis itu juga ikut andil dalam kesuksesan acara tadi
malam, menjadi pemeran utama dalam Film Indie Sekolah seharusnya membuat semua
mata tertuju pada sosok cantik itu, tapi entah kenapa aku tak pernah mau peduli
dengan semua itu. Dan Gadis itu lagi-lagi menghampiriku, kini saat aku sedang
duduk didepan kelas, kukira kejadian kemarin seharusnya cukup membuatnya jera
untuk mengejar-ngejar aku, tapi anehnya gadis ini malah mengambil KREKku dan
meletakkannya di pangkuannya.
“ tadi malam kamu kemana,
gak liat aku main yah..? “
“ yang ngliat kamu udah
banyak kan? “
“ aku pengen kamu liat aku
main, Lang “
“ ngapain kamu kesini ? “
ketusku
“ ya buat ketemu sama kamu ”
“ Cuma ngomongin masalah ini
?“
“ aku mau ngobrol banyak
sama kamu, Lang “
“ aku laper, mau ke kantin“
“ yaudah kalo gitu aku ikut
kamu ke kantin yah ”
“ terserah, balikin KREKku
dulu”
####
Berjalan berdampingan
membuat banyak teman memandangi kami, membuatku semakin risih, sesekali kulihat
langkahnya ditahan, saat aku mengindari jalan berbatu yang membuat langkahku
semakin pelan, ingin mencoba membantu, tapi mungkin ia sudah tahu aku takkan
mau untuk dibantu. Entah apa yang aku pikirkan hingga aku ijinkan ia mengikutiku.
Dan sesuai dugaanku banyak siswa di kantin, memandangi kami bahkan dari mereka
menyoraki kami, tapi tak sedikitpun kulihat ia terganggu dengan suara-suara
itu.
“ kok bengong katanya lapar…
” ucapnya membuyarkan pikiranku
“ Buk, sarapan kaya’ biasanya
“
“ saya teh hangat buk “
ucapnya mengikuti
Sarapanku kali ini terasa
berbeda, ada sebuah senyuman yang kulihat dari tadi memperhatikanku, sekarang
aku tahu, kenapa gadis ini sengaja hanya memesan Teh hangat. Ingin sekali
rasanya berteriak untuk mengenyahkannya dari hadapanku, tapi lagi-lagi ada
sebuah senyum yang menjeratku….
“ ngapain kamu ngliatin aku
kaya’ gitu “ ketusku
“ kamu manis kalo lagi makan
Lang “
“ kamu jadi cewe’ agresif
banget sih, Eneg aku dengernya “
“ Aku gak bakal seagresif
ini Lang, kalau kamu mau ngobrol bentar aja sama aku “
“ kamu pikir dari tadi kita
ngapain? “
“ tapi keliatan banget kamu
gak nyaman ngobrol sama aku“ ungkapnya sambil melemparkan senyum kearahku, aku
terdiam, sejenak berpikir ingin membalas ucapannya, tapi aku tak mau lagi-lagi
menyakiti hati gadis ini.
“ kenapa diem, aku tahu kamu
cuma menghindar dari aku, Lang, sama yang lain kamu biasa aja.. “ ucapannya
seperti ribuan petir yang menjalari otakku
“ kalau udah tahu kenapa
masih ngejar-ngejar? “ aku berkata seadanya
“ aku juga gak tahu, padahal
kamu orangnya Jutek, nyebelin, kaku, gak asik, tapi tetep aja aku ngejar-ngejar
kamu Lang… “ timpalnya dengan sebuah senyuman yang mengikuti
“ maafin aku “
“ maafnya diterima kok,
tenang aja ”
ucapnya yang mengakhiri perdebatan panjang kami, ternyata
gadis ini tak seburuk yang kukira, caranya bertutur, memelas, tersenyum
membuatku bingung memaknai apa yang saat ini kurasa. Perasaan apa ini…..
####
“ behg… ke’opo Lang rasane
mangan bareng Leta ? “ suara Kècèng memecahkan kesunyian kelasku saat
mengerjakan tugas guru yang tak hadir di jam terakhir ini. Sontak seluruh kelas
langsung bergemuruh bersorak, padahal kukira mereka semua telah lupa peristiwa
tadi pagi, dasar si Kècèng….
“ gak ada rasa apa-apa ”
ketusku sambil meneruskan tulisanku
“ awakmu iki ke’opo si Lang,
disenengi arek ayu kok malah gak seneng ngono“
“ malu-maluin aku aja kamu Cèng” aku kembali
beradu dengan tugasku, tak pedulikan omongan Kècèng barusan, karena semakin
mengingat kejadian tadi pagi, semakin risih aku dibuatnya.
####
Udara malam kota Malang
sehabis hujan begitu dingin, membuatku harus melapisi kaosku dengan jaket yang
agak tebal, selarut ini aku masih duduk didepan rumah, mungkin untuk menunggu
butir-butir hujan akan benar-benar habis di langit malam, atau karena gadis
itu, atau apapun itu, yang jelas akan membuatku sulit tidur untuk malam ini.
####
“Panggungnya uda kelar Ron?”
tanyaku pada Roni, teman satu kelasku yang kebetulan sama-sama menjadi anggaota
OSIS, Lagi-lagi kegiatan sekolah membuatku harus tertahan disekolah hingga
sore, hanya tinggal beberapa anak yang masih tampak berkeliaran disekolah.
“Udah, Lang, tinggal nunggu
kursinya dianter besok”
“ oh, yaudah aku pulang
duluan kalo gitu “
“ yo, hati-hati Lang”
Aku berjalan pelan menuju
tempat parkir, dan Tuhan…. Lagi-lagi aku harus bertemu dengan gadis ini, kini
kulihat ia semakin mendekat ke arahku.
“ Gilang, aku boleh minta
tolong”
“ minta tolong apa?”
“ ini, ban sepedaku bocor,
sekarang aku mau taruh di tambal ban seberang jalan itu, tapi terus… aku boleh
nebeng kamu gak?”
“ kenapa gak nebeng yang
lain aja ” jawabku enteng
“ aku mau nebeng sama kamu
Lang… ”
“ aku mau buru-buru pulang”
“ tapi, aku cuma nebeng
sampe’ depan pertigaan Lang, jadi aku gak harus nyita waktu kamu kan?”
“ yaudah!! “
“ yaudah, maksudnya?”
“iya, ayo… ” akhirnya, aku
harus kalah berdebat dengan gadis ini, membuatku kini betul-betul ada dalam
situasi yang selama ini begitu kuhindari, memuakkan…
####
Malam ini udara kota Malang
yang dingin serasa menusuk-nusuk kulitku, sengaja motor ini kupelankan agar ia
tak berpegangan padaku, tak ada perbincangan apapun, menambah senyapnya jalan
yang tak begitu ramai dilewati orang, hanya ada beberapa warung-warung kecil di
pinggiran jalan. Sesekali aku lirik wajah manisnya di kaca spion motorku, hanya
sekedar memastikan bahwa ia masih benar-benar ada di atas motorku. Aku kembali
berkonsentrasi pada setir, tapi kemudian dari arah kiri seorang ibu-ibu
menyeberang jalan dengan tiba-tiba. Sontak aku langsung mengerem motorku, dan
yang terjadi aku terpelanting sampai ke sisi jalan, KREK yang kupegang di
tangan terlempar agak jauh, badanku terasa saki semua, sikuku sedikit lecet,
dan….
“ Ya Allah… Leta…” aku cepat
meraih KREKku, setengah berlari mencarinya, aku melihatnya telah duduk di
seberang jalan sambil mengibas seragamnya yang telah kotor tersabet aspal jalan,
beberapa orang pedagang mulai mengerumuninya, memebuatku harus sedikit menyibak
kerumunan itu
“ Ta, kamu gak apa apa? Apa
ada yang luka? “
“ gak apa-apa kok Lang, Cuma
pusing dikit, kamu sendiri gimana? ”
“ alhamdulilah, aku sih gak
apa-apa, kamu minum dulu yah..”
“ gak usah Lang, kita pulang
aja, katanya kamu buru-buru pulang? “ aku tertegun, memandangi gadis didepanku
ini
“ tapi kamu gak apa-apa
beneran kan Ta?”
“ gak apa-apa, Lang…”
“ kamu minum ini dulu Ta, aku
periksa motorku, baru kita pulang “ ia meminum air yang diberikan seorang
pedagang di warung pada kami, dan setelah memastikan bahwa tak ada kerusakan
yang berarti dengan motorku, aku mengajaknya untuk pulang, tangan kanannya
terasa melingkar di pinggangku, tak ada perlawanan yang kulakukan, karena aku
berpikir mungkin ia hanya takut terjatuh seperti yang kami alami barusan.
“ rumah kamu dimana Ta? “
Setelah mengikuti arah yang
ditunjukkannya, akhirnya kami sampai di rumah besar bercat krem, di daerah
perbukitan, di Perumahan Kampus Malang
“ makasih Lang, udah mau
nganter sampe’ depan rumah “
“ iya, sama-sama ”
“ kamu kenapa mau nganterin sampe’ sini?
katanya mau buru-buru pulang? “
“ ya masak abis jatuh, aku
turunin kamu di pertigaan tadi ” jawabku enteng
“ berarti kalo gak jatuh
kamu bener-bener nebengin aku sampe’ pertigaan Lang? ” ucapnya bernada tinggi
“ lha, berarti dari tadi
kamu ngarep aku anterin sampe’ depan rumah yah?” mendengar ucapanku barusan ia
tertawa kecil, aku pandangi ia lekat-lekat….
“ kamu manis Lang, sedikit
ganteng lah.. dikit tapi…! ” ia mulai memuji
“ kata anak-anak kamu juga
cantik, manis, baik… ehm.. pinter dikit lha… “ balasku
“ kenapa kata anak-anak? ” kemudian
aku tersenyum melihat reaksi gadis ini barusan
“ soalnya aku ragu-ragu sama
mereka” mendengar ucapanku ia lalu tertawa sambil memegangi lengan kiriku
begitu manja…
“ kamu lucu Lang”
“ baru kamu yang bilang
gitu”
“ aku sendiri baru tahu kalo
kamu bisa nge’lucu”
“ aku gak lucu, tapi mungkin
sangking kamu ngefansnya sama aku, sampe’ semua keliatan lucu buat kamu” ucapku
asal
“ ih… GR banget sih…”
senyumannya lagi-lagi menjeratku…
“ udah malem Ta, aku pulang
dulu ” ucapku sedikit gugup
“ Gilang, udah lama aku suka
sama kamu ” gadis ini tiba-tiba menjerat lengan kiriku, mematikan aku dengan
ucapannya yang agak keras barusan, aku begitu gugup, lidahku keluh, bibirku
membeku, aku benar-benar tak tahu harus berucap apa padanya…
“ oh ya, tadi kamu gak pake
Helm Ta, apa.. kepala kamu masih pusing?” ucapku asal,
terdengar suara detak jantungku yang benar-benar berdetak kencang….
“ masih ” jawabnya singkat sambil
mengelus kepala
“ kamu pikir aku bercanda
Lang? ” lanjutnya seperti tak ingin menghentikan pembicaraan
“ iya.. ? ” jawabku enteng
“ terserah lah, paling gak..
kamu udah tahu kenapa selama ini aku ngejar-ngejar kamu Lang “ aku hanya
tersenyum pahit pada gadis didepanku ini, aku benar-benar kehabisan kata-kata
didepannya, bahkan tak mampu untuk menatap mata gadis ini
“ dan… aku juga pasti bakal kengen banget sama
senyum kamu yang barusan Lang“ ia kembali tersenyum manis...
####
sebuah senyuman darinya terasa
menghangatkanku diperjalanan pulang malam ini, senyum yang kubawa sampai rumah, hingga terlelap, dan kembali
terbangun…. Aneh, senyum itu masih ada.
####
Kurasa beberapa tugas dari
guru akan membuatku sibuk malam nanti, ada sesuatu yang membuatku merasa
kehilangan, gadis itu… ia tak kulihat sejak jam istirahat tadi, juga senyumnya yang entah kenapa begitu
kurindukan, aku mulai manata bukuku kedalam tas, karena barusan seorang guru
piket datang hanya membawa tugas dari seorang guru yang tidak hadir siang ini. Karena
dua jam lagi bel pulang dibunyikan, kelas begitu ramai, beberapa anak tidur,
beberapa lagi sibuk beradu argumen, sedangkan aku sendiri masih berusaha mengenyahkan
wajah gadis itu bersama senyumannya yang masih terbayang-bayang. Tiba-tiba beberapa
guru masuk ke dalam kelas dengan wajah penuh keseriusan…..
“Assalamu’alaikum
Warahmatullah… Inalilahiwainalilahiroji’un, telah berpulang ke rahmatullah,
murid, teman, sekaligus sahabat kita, yang bernama Leta Paramitha Rahardi kelas
Dua belas IPA 1 pukul 06.00 tadi pagi di kediamannya, anak anak… sepatutnya
kita turut berbela sungkawa atas meninggalnya teman kita ini, diharapkan untuk
pihak yang berkepentingan agar segera berkumpul di ruang OSIS, terimakasih “ badanku
tiba-tiba gemetar, pandanganku nanar, pikiranku tak lagi berarah, tubuhku
tiba-tiba kaku, gadis itu… ! ia benar-benar tak memberi aku kesempatan untuk
sekedar mengucap maaf, membuatku mematung untuk saat yang lama, air mata bahkan
tak bisa kutahan lagi setelah kelas benar-benar bersih dari orang, tiga jam
berlalu, hingga yang aku tahu hafid mengantarkanku sampai rumahku sore itu, aku
benar-benar tak memiliki tenaga bahkan untuk bicara.
####
Aku hanya duduk mematung
didalam kamarku, bahkan aku tak berani untuk sekedar melepas kepergiannya pagi
tadi, andai ia tahu bahwa kecacatanku membuatku tak memiliki banyak nyali untuk
membalas perasaannya padaku, mungkin penyesalanku akan terasa berbeda saat ini.
Leta… kini nama itu kusebut ratusan kali didalam tangisku, aku begitu lemah, rasanya
tak sanggup lagi berdiri walaupun dengan tongkat KREKku, aku menangis, terduduk
di sudut kamarku, mengguguk, menutup mukaku yang tlah basah oleh airmata, sesekali
menyandarkan kepalaku pada sisi ranjang, tak ada satu orang pun yang akan tahu
bagaimana menderitanya aku setelah ini, setelah ditinggal seorang gadis yang
bahkan belum sempat menerima kata maaf dariku, aku bodoh karena terlalu
meragukan perasaannya padaku, karena kebodohanku itu, kini aku merasa telah
banar-benar kalah dengan kecacatanku, aku malu mengakui bahwa ia benar-benar
mampu menjeratku, karena kebodohanku pula, aku baru menyadari bahwa apa yang
aku rasakan selama ini adalah sebuah cinta…! cinta pertama, belum sempat
tumbuh… dan telah layu. Kini… karena cinta itulah… aku begitu menyesal….!
Selesai.
By : Manggalie Utamaningrum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar