Postingan

Letting go

Gambar
Hari ini entah petang keberapa setelah sekian bulan mimpiku hanya berisi tentang rasa bersalahku, terhadapmu, entah mengapa hanya tentangmu. aku tak cukup yakin surat yang kutulis telah kau buka, sempat kau baca, apalagi bahkan untuk bisa menyentuhmu dengan kalimat yang sudah kusadur ratusan kali dengan kalimat yang terbata-bata aku tak yakin betul... Petang ini, sebelum hujan ragu-ragu menerkam-aku pulang dari keharusan yang membosankan, aku berlari berharap dapat mengejarmu,

Aku ingin Berpikir...

Gambar
0.09, 04 Januari 2015 Empat hari sudah tahun yang lalu berganti baru, semua yang bahkan belum sempat kubuat, belum sempat kurampungkan bahkan yang belum kurencanakan berlalu begitu saja tanpa pengingat, Kenangan, masa lalu bahkan harapan berlalu tanpa malu didepan mataku, cita-cita dan mimpi? Ah... aku tak punya hal yang seperti itu, Pecah-musnahlah sudah!

Cintamu Itu Menyusahkan!

Gambar
Sayang... puisiku datang untuk kesekian tak pedulikan kau gantung atau kau buang Sayang... aku datang telah berulang, tak hiraukan betapa muaknya dirimu pada cintaku Aku telah datang sayang... Tapi malah kau tendang aku dengan balasan cinta yang lebih dalam Aku benci kau sayang, karena cintamu kini menyusahkan, Sekarang, aku ingin kau akui saja, jika kau sedang merindu padaku Tak lebih dan Tak kurang.

Menunggumu Dalam Sunyi

Gambar
Aku menuggumu... Sampai air mata ini kering membeku, sambil kukidungkan cerita tantang sunyi disaat telah habis kesabaranku yang lagi-lagi telanjang bersama sepi, aku menunggumu... Dalam mimpi yang tak kunjung datang disaat angan-angan pecah percuma menuju awan, lalu matahri pun takut melihatku yang kini lumpuh membisu. Aku menunggumu kekasihku... Ketika mata nanar ini memperlihatkan aku betapa bahagianya dirimu, ketika gerombolan awan gugur sambil membawa kabar indah tentangmu yang tak lagi memikul beban. Ketika kulihat kau tersenyum tulus dipelukkan-Nya. dan aku akan tetap menunggumu kekasihku... Menunggumu untuk mengucap perpisahan itu...

Jeritan Anak Ingusan

Gambar
Ibuku sayang….. BBM kian melambung, Parfum murah pun tak terbeli, akhirnya aroma keringat menusuk-nusuk hidung banyak kawanku, Ibuku sayang…. bagaimana kalau kau belikan saja aku kambing hitam? Biar kutumbuhkan lantas berhasil kuuangkan buat bekal hidup masa depan? Bagaimana? Bagaimana bila kuputuskan hubungan dengan sekolah karena tak lagi ia berbaik hati pada kita? Bagaimana? Bagaimana bila kugadaikan saja recehan Ilmu yang kupunya dengan Nasi buat makan kita sore nanti? Bagaimana? Bagaimana bila ku bunuh perutku yang kering keronta? Ah…. Atau kubunuh saja mereka yang sejak lama coba membunuh kita?

Tekanan Tinggi

Gambar
Semakin jelas kudengar Kidungan, Entah itu dari langit, atau dari kamar tempatku menyinggit. Suaranya memekakkan, Tapi sejauh ini masih kupikirkan Memang nyaringnya tak tertahan, Bahkan mampu jebolkan pintu kamar Aneh…. ! Aku malah mendengar dan bertahan Kunikmati itu layaknya pagelaran. Bingung, Sejadi-jadinya aku berdiri, Berlari melakukan sepenuh hati Oh… Pantas saja kudengarkan, Ternyata suaranya berasal dari kesalahanku dan kekesalannya.

Saat Lampu padam

Gambar
Kawan.... Lampu padam! tak ada yang bisa terkenang, kecuali luka rindu yang menganga begitu dalam. Kawan... lampu rumahku padam! tak ada yang bisa terlihat kecuali bayang-bayang wajahnya yang semakin membuat nyeri hatiku dalam kesakitan. Dan kawan... Seberapa pun sering Lampu Pemerintah dipadamkan, begitu kuyakinkan, ia takkan lagi hadir dalam pelukan