Sabtu, 22 Maret 2014
Suatu Saat disuatu Tempat
Kau bilang suatu saat kita akan bertemu kembali?
suatu saat yang hingga kini tak pernah tiba kedatangannya,
suatu saat dimana kepalaku yang kecil kau belai dengan mesra, dengan senyuman yang kau punya apa adanya,
suatu saat jemariku kau rangkul, satu persatu kau raih dan kau hangatkan kembali dari dinginnya sore yang menusuk penuh kehangatan kebersaamaan,
suatu saat pun tiba pada suatu ketika, dimana aku menyadari hariku telah Kau curi, indahku Kau rampas
tanpa menanyakan apakah aku sanggup berdiri dari semua ini?
Suatu saat disuatu tempat,
aku belajar menjalani kehidupan yang berat,
memiliki semuanya dengan harus kehilangan segalanya.....
aku tak pernah memilih untuk ini,
bahkan aku tak bisa memilih untuk apa yang seharusnya kumiliki.
Hidup macam apa ini?
Kau bilang suatu saat kita akan bertemu kembali, bukan?
kapan?
aku sudah cukup lelah menjalani semua sendirian,
tanpamu, dan tanpa mereka yang hampir tiap hari kurindu keberadaannya,
tidakkah ini berlebihan?
aku ingin bertemu denganmu barang sekali,
sekali saja bahkan ketika suara riuh pohon-pohon bambu nyaris asing tak lagi kukenal,
ketika senja di desa kita tak pernah lagi kupandang rupanya,
ketika aku tak lagi melihat kupu-kupu terbang didepan rumah kecil kita,
atau ketika kita kusyuk memerhatikan bintang-bintang berdua diatas tumpukan batu bata yang sekalipun tak pernah kuulangi dengan orang gila manapun.
Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu tiap usiaku bertambah,
aku menunggunya sejak usiaku masih Dua belas,
sejak aku bahkan belum sempurna mengeja kata-kata petuah yang pernah coba kau ajarkan.
tapi untuk kali ini saja...
hanya di April kali ini dan lupakan semua janjimu kepadaku 8 Tahun yang lalu...
apakah ini terlalu berlebihan?
Lalu....
Suatu saat disuatu Tempat.....
dimana tak ada lagi hal yang berarti,
keinginan-harapan-bahkan khayalan.
suatu saat disana,
dimana telah kupatahkan kedua kaki mengejar mimpi yang akhirnya tak akan pernah bisa kugapai,
suatu saat dimana dunia ini telah menutup semua pintunya untuk kedatanganku,
suatu saat itu yang membuatku tak punya siapa-siapa lagi, bahkan keluarga yang dengan lantang pernah mencintaiku dengan ketulusan,
suatu saat itu aku telah rentah-tua dan tak lagi punya daya bahkan upaya untuk bicara......
suatu saat ketakutanku akan menjadi kenyataan,
membunuhku dalam kesendirian....
Tuhan,
Inilah Sepi.
_________________________
#Jika April ini adalah akhir, maka setelahnya adalah permulaan yang tak pernah lagi kuharap datangnya.
Untuk teman tidurku yang selalu sabar menghadapi kebengalanku, "Dwet" tabung uangmu dan belikan aku kue dengan cukup satu lilin besar diatasnya untuk menyambut hari ulangtahunku....
Untuk Sahabatku Fitri (yang telah begitu setia), dan Minah (yang walau sejengkal lebih jauh dari sebelumnya), kali ini jangan lupa lagi ya? :D
Untuk Kedua Belahan Jiwaku, dan keluarga kecil yang selalu mencuri rinduku disini. Terimakasih telah hidup dan bertahan dengan keadaan yang tak pernah kalian inginkan, terimakasih telah bertahan-terimakasih telah bertahan-terimakasih telah bertahan dengan ketegaran kalian...
Untuk Orang Gila yang merusak hidupku dengan kematiannya, aku ingin bertemu ketika umurku genap 20, sekali saja dalam mimpi, cukup sekali walau aku menafikkan untuk tak ingin berkali-kali...
Untuk Ibu, aku tak punya permintaan apapun padamu, bahagialah selalu dengan kehidupanmu Bu...
Terimakasih.
Untuk Kalian,
(nanti, bawakan aku sepotong kue kecil dengan pahatan krim warna menyala bertuliskan "Selamat", lalu tancapkan sebuah simbol harapan yang ingin kupintakan pada Tuhan untuk kalian, bakarlah dengan api yang menghangatkan mata kita ketika tak sanggup lagi menahan linangan tangis keharuan. bawakan itu semua tepat didepan keningku, saat tiba waktunya akan kutiup dengan sisa nafas yang kupunya.
Terimakasih telah lahir dan menghiasi kehidupanku....)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar