Malam yang beku,
telanjangi waktu tanpamu dan alasan apapun yang bisa membuatku bertahan untuk
mengingatmu lebih dalam,
sunyi tlah membunuhku dari sejam yang lalu,
kau berlalu dan berlalu-lalang memenuhi segenap
khayalan lalu membiarkan satu persatu bagian tubuhku kaku dan melayu.
aku tak tahu lagi harus memulai darimana?
hingga aku mulai kelam sekedar mampir untuk memikirkan berapa detik lagi semuanya harus diakhiri?
sunyi tlah membunuhku dari sejam yang lalu,
kau berlalu dan berlalu-lalang memenuhi segenap
khayalan lalu membiarkan satu persatu bagian tubuhku kaku dan melayu.
aku tak tahu lagi harus memulai darimana?
hingga aku mulai kelam sekedar mampir untuk memikirkan berapa detik lagi semuanya harus diakhiri?
harusnya kau yang memberi jawabnya Sayang…
harusnya tak perlu banyak orang untuk membisikkan sebetapa muaknya kau padaku.
harusnya kau banyak bercerita Sayang…
harusnya kau ucapkan satu persatu huruf yang menjadi alasan sebuah kalimat untuk dapat mengenyahkanku dari pandangmu.
bukankah itu kabar baik yang ingin kau perdengarkan?
tapi untuk malam ini saja…
hanya untuk malam ini dan setelahnya lupakan permintaanku dihari ketika kita bertemu suatu saat nanti,
suatu saat yang menjelmakan kedewasaanmu bertambah dan usiamu tak lagi membuncah-buncah,
suatu saat yang kematian tak lagi menjadi ketakutanmu yang mahal, dan kebahagiaan mungkin mulai menyelimutimu dengan kecongkakan yang anggun dan nakal.
lihatlah suatu-saat itu akan menjadi hal yang jauh memisahkan kita berdua dihari nanti,
disepanjang jalan yang kita susuri tiap malam yang Malang di beberapa hari menjelang kelaparan
harusnya tak perlu banyak orang untuk membisikkan sebetapa muaknya kau padaku.
harusnya kau banyak bercerita Sayang…
harusnya kau ucapkan satu persatu huruf yang menjadi alasan sebuah kalimat untuk dapat mengenyahkanku dari pandangmu.
bukankah itu kabar baik yang ingin kau perdengarkan?
tapi untuk malam ini saja…
hanya untuk malam ini dan setelahnya lupakan permintaanku dihari ketika kita bertemu suatu saat nanti,
suatu saat yang menjelmakan kedewasaanmu bertambah dan usiamu tak lagi membuncah-buncah,
suatu saat yang kematian tak lagi menjadi ketakutanmu yang mahal, dan kebahagiaan mungkin mulai menyelimutimu dengan kecongkakan yang anggun dan nakal.
lihatlah suatu-saat itu akan menjadi hal yang jauh memisahkan kita berdua dihari nanti,
disepanjang jalan yang kita susuri tiap malam yang Malang di beberapa hari menjelang kelaparan
Kita!
sedang aku tak pernah menyebut namamu dan kaupun terpaksa demikian bukan?
bukankah Kita adalah sepasang ‘Kekasih’ yang tak memiliki muara dalam mengayuh dayung ‘Percintaan’?
Ya…
dan sungguh, permintaanku hanya untuk Jaga dirimu sendiri dengan sungguh-sungguh, lalu aku akan benar-benar rela membiarkanmu melupakanku dengan mudah.
Selamat Tidur Sayang....
30 Januari 2014
30 Januari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar