(..........) Dancok,
Cintanya
juga Dancok
Embel-embel
moralpun didancokkan rasanya,
Bapakku
Pergi….
Ia
terlalu malu mungkin,
Atau
terpaksa aku juga ?
Tuhan
selalu melihat,
Hanya
mendengar dan sendekap.
Memang
Dunia ini Mulai mendacokiku
Kau
Berulah… ?
Jangan
salahkan jika kelak aku pula…
Dancok
!
Lelaki
Bajingan Kau Cok !
Terlalu
siang kau perkosa (..........) dengan Cintamu yang Hina itu…
Aku
tak butuh elusan tanganmu yang menjijikkan,
Kau
bukan Bapakku, bukan siapaku,
Sampai
kapanpun tetap begitu.
Aku
ingin meludahi Etikamu yang busuk itu,
Ingin
melempar mukamu yang selalu memancing neraka untuk ambil andil
Entah
Hina apa yang disandang (..........) hingga ia bisa mencintaimu dengan kebusukan hati,
Dengan
kedua mata yang sudah dicongkel oleh kebutaan Cintanya yang Dancok itu….
Aku
tak peduli lagi…!
Tak
mau lagi………
Lamongan, 01 Januari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar