Kamis, 30 Januari 2014

Mulutmu-ku sama Dancoknya !


(..........) Dancok,
Cintanya juga Dancok
Embel-embel moralpun didancokkan rasanya,
Bapakku Pergi….
Ia terlalu malu mungkin,
Atau terpaksa aku juga ?

Tuhan selalu melihat,
Hanya mendengar dan sendekap.
Memang Dunia ini Mulai mendacokiku

Kau Berulah… ?
Jangan salahkan jika kelak aku pula…
Dancok !
Lelaki Bajingan Kau Cok !
Terlalu siang kau perkosa (..........) dengan Cintamu yang Hina itu…
Aku tak butuh elusan tanganmu yang menjijikkan,
Kau bukan Bapakku, bukan siapaku,
Sampai kapanpun tetap begitu.
Aku ingin meludahi Etikamu yang busuk itu,
Ingin melempar mukamu yang selalu memancing neraka untuk ambil andil
Entah Hina apa yang disandang (..........) hingga ia bisa mencintaimu dengan kebusukan hati,
Dengan kedua mata yang sudah dicongkel oleh kebutaan Cintanya yang Dancok itu….
Aku tak peduli lagi…!
Tak mau lagi………


Lamongan, 01 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar