Kuketuk mata hatimu,
lama kutunggui sambil pahit getir memegangi kepala yang berulang terbentur hingga berdarah,
kuketuk lagi pintu hatimu,
berharap
kau buka lalu kau sambut aku dalam gelak tawa yang begitu lama
kuimpikan hingga meletup letup inginku yang hanya sebatas didada.
Kutunggui terbukanya pintu keramatmu itu wahai malaikat kecilku,
walaupun angin badai memintaku dengan halus tuk enyah,
pun hujan deras menghujaniku dengan hujatan yang begitu menggunjing hatiku,
tapi lihatlah...
aku tetap meradang menunggumu.
Aku menungguimu hingga kaku ku sayat sayat tubuh lalu kucercahi nadi yang bahkan tak lagi sempurna tuk mengalir
dan aku tetap menunggumu membuka pintu itu,
tak pedulikan orang ngomong,
biar jiwa jiwa kalah yang terbombong.
Hey,
apa perlu kudobrak saja hatimu yang sedang dingin membekukan itu?
Kini.. Salahkah jika kubatasi akal sehatku?
Aku membencimu,
maafkan...
Aku tak sanggup lagi menerima lakumu yang begitu amat menyakitkan itu,
aku membencimu,
maka bukalah hatimu dalam pintu pintu maafmu tuk memaafkanku.
_0212

Tidak ada komentar:
Posting Komentar