Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Cintamu Itu Menyusahkan!

Gambar
Sayang... puisiku datang untuk kesekian tak pedulikan kau gantung atau kau buang Sayang... aku datang telah berulang, tak hiraukan betapa muaknya dirimu pada cintaku Aku telah datang sayang... Tapi malah kau tendang aku dengan balasan cinta yang lebih dalam Aku benci kau sayang, karena cintamu kini menyusahkan, Sekarang, aku ingin kau akui saja, jika kau sedang merindu padaku Tak lebih dan Tak kurang.

Menunggumu Dalam Sunyi

Gambar
Aku menuggumu... Sampai air mata ini kering membeku, sambil kukidungkan cerita tantang sunyi disaat telah habis kesabaranku yang lagi-lagi telanjang bersama sepi, aku menunggumu... Dalam mimpi yang tak kunjung datang disaat angan-angan pecah percuma menuju awan, lalu matahri pun takut melihatku yang kini lumpuh membisu. Aku menunggumu kekasihku... Ketika mata nanar ini memperlihatkan aku betapa bahagianya dirimu, ketika gerombolan awan gugur sambil membawa kabar indah tentangmu yang tak lagi memikul beban. Ketika kulihat kau tersenyum tulus dipelukkan-Nya. dan aku akan tetap menunggumu kekasihku... Menunggumu untuk mengucap perpisahan itu...

Jeritan Anak Ingusan

Gambar
Ibuku sayang….. BBM kian melambung, Parfum murah pun tak terbeli, akhirnya aroma keringat menusuk-nusuk hidung banyak kawanku, Ibuku sayang…. bagaimana kalau kau belikan saja aku kambing hitam? Biar kutumbuhkan lantas berhasil kuuangkan buat bekal hidup masa depan? Bagaimana? Bagaimana bila kuputuskan hubungan dengan sekolah karena tak lagi ia berbaik hati pada kita? Bagaimana? Bagaimana bila kugadaikan saja recehan Ilmu yang kupunya dengan Nasi buat makan kita sore nanti? Bagaimana? Bagaimana bila ku bunuh perutku yang kering keronta? Ah…. Atau kubunuh saja mereka yang sejak lama coba membunuh kita?

Tekanan Tinggi

Gambar
Semakin jelas kudengar Kidungan, Entah itu dari langit, atau dari kamar tempatku menyinggit. Suaranya memekakkan, Tapi sejauh ini masih kupikirkan Memang nyaringnya tak tertahan, Bahkan mampu jebolkan pintu kamar Aneh…. ! Aku malah mendengar dan bertahan Kunikmati itu layaknya pagelaran. Bingung, Sejadi-jadinya aku berdiri, Berlari melakukan sepenuh hati Oh… Pantas saja kudengarkan, Ternyata suaranya berasal dari kesalahanku dan kekesalannya.

Saat Lampu padam

Gambar
Kawan.... Lampu padam! tak ada yang bisa terkenang, kecuali luka rindu yang menganga begitu dalam. Kawan... lampu rumahku padam! tak ada yang bisa terlihat kecuali bayang-bayang wajahnya yang semakin membuat nyeri hatiku dalam kesakitan. Dan kawan... Seberapa pun sering Lampu Pemerintah dipadamkan, begitu kuyakinkan, ia takkan lagi hadir dalam pelukan

Bukan Dirimu

Gambar
Senyum pun aku tak lagi mampu, ini baru hanya fase pengenalan tentang secuil penyesalan yang bakal ku kecam bukan? Ya... Keangkuhanmu membuatmu bak duri melati, sedang kutahu benar, tak pernah sekalipun bunga itu nampak berduri. kau tahu, Layak itupun dirimu ! Hey... Kelak, jika kau tak lagi kuat menopang kecongkakanmu, peluk lalu berikan maaf padaku ya?

Alangkah enak jadi Bapak

Gambar
Bapak.. Anakmu sedang berjuang melawan busung lapar, berjuang melawan hidup yang kerasnya tak tertahankan, melawan penindasan yang mendera tak lagi memaklumi kita, Pak... Seandainya saja kita dilahirkan dari rahim jutawan, mungkin hidup tak lagi kesusahan, berfoya tanpa pandang rendah kebawah, bersolek harta tanpa menginjak orang sekalipun bisa diinjaknya… Bapakku sayang.. Mulai kemarin sore, Berilmu tak lagi jadi Hak kurasa? membuatku setengah mati menata hati demi masa depan yang hingga kini belum jelas terangnya, belum kutemukan penyulutnya Bapakku sayang.. Kenapa kau antarkan tapi tak pernah kau jemput aku? Hingga meringis sendiri aku dalam dunia yang kerap mengecilkanku.. Ahh.. Alangkah enak jadi dirimu Pak?!

Kerancuan Emansipasi Kartini

Kamu dapat merantaiku, kamu dapat menyiksaku, bahkan kamu dapat menghancurkan tubuh ini, tetapi kamu tidak akan dapat memenjarakan pikiranku. (Mahatma Gandhi) Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia tak pernah luput memperingati hari kelahiran Raden Ayu kartini, yang lebih dikenal sebagai Raden Adjeng Kartini, yang di Indonesia populer dengan peringatan hari Kartini. Dengan berbagai semangat perlombaan dan acara yang ditujukan khusus untuk perempuan Indonesia, baik yang masih belia hingga nenek-nenek sekalipun. Tujuannya sama, yakni sebagai momentual refleksi agar kaum lelaki (diharapkan) bisa menghargai (lebih) keberadaan kaum perempuan. Sebenarnya masihkah perlu diperingati emansipasi di era yang sudah “sama-rata” ini?         Kita tentu tak perlu moncontoh bangsa barat dalam mengartikan emansipasi, Berusaha menjauhkan kaum ibu dari tugas-tugasnya di rumah seperti yang ditulis oleh Taylor dalam Enfranchisement of Women dan ...