Kerancuan Emansipasi Kartini

Kamu dapat merantaiku, kamu dapat menyiksaku, bahkan kamu dapat menghancurkan tubuh ini, tetapi kamu tidak akan dapat memenjarakan pikiranku.

(Mahatma Gandhi)

Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia tak pernah luput memperingati hari kelahiran Raden Ayu kartini, yang lebih dikenal sebagai Raden Adjeng Kartini, yang di Indonesia populer dengan peringatan hari Kartini. Dengan berbagai semangat perlombaan dan acara yang ditujukan khusus untuk perempuan Indonesia, baik yang masih belia hingga nenek-nenek sekalipun. Tujuannya sama, yakni sebagai momentual refleksi agar kaum lelaki (diharapkan) bisa menghargai (lebih) keberadaan kaum perempuan. Sebenarnya masihkah perlu diperingati emansipasi di era yang sudah “sama-rata” ini?

        Kita tentu tak perlu moncontoh bangsa barat dalam mengartikan emansipasi, Berusaha menjauhkan kaum ibu dari tugas-tugasnya di rumah seperti yang ditulis oleh Taylor dalam Enfranchisement of Women dan menganjurkan menjadi wanita karier. Atau menolak menjadi ibu seperti kata Gayle Rubin, yang menginginkan penghapusan institusi perkawinan. Dan atau mengkomersialkan setiap bagian tubuh termasuk rahim seperti yang disarankan Rosemarie Putnam Tong. Gagasan-gagasan tiga tokoh feminisme itu nyaris banyak diteriakkan para perempuan saat peringatan hari emansipasi, mesti hanya sesaat, sehari itu saja, tetapi endapan keyakinan atas kebenaran ideologi itu tak bisa sesaat dan kelak bisa membudaya.
Perempuan tak perlu emansipasi kebablasan menjadi feminisme dengan cara-cara berlebihan meskipun hanya sehari, karena jika ditilik dari segi asal bahasanya, bahasa latin dari perempuan disebut dengan istilah Femina, feminime, feminist,  yang berasal dari fe-minus. Fei artinya iman, minus artinya kurang. Jadi feminus artinya "kurang iman".

          Kesetaraan gender atau yang biasa digembar-gemborkan sebagai makna dari emansipasi ini, dulunya memang adalah sebuah bentuk pemberontakan kaum perempuan dari ketertindasan para lelaki. Jaman penjajahan Belanda era itu, perempuan begitu dipandang rendah bahkan yang paling keji adalah anggapan bahwa kaum perempuan hidup hanya sebagai alat pemuas nafsu lelaki semata. Itulah yang dimaksud R.A Kartini dalam salah satu suratnya yang ditulis untuk sahabatnya (Stella Zihandelaar) di Belanda.

          “ Kami akan menggoyah-goyahkan gedung Feodalisme itu dengan segala tenaga yang ada pada kami, dan andaikan ada satu potong batu yang jatuh, kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia. Akan tetapi sebelum itu kami akan mencoba untuk memperoleh kerja sama meski hanya dari satu pria yang paling baik dan terpelajar…. Kami akan menghubungi kaum pria kita yang terpelajar dan progresif. Kami akan memperoleh  persahabatan dan bantuan mereka sebab kami bukan berjuang untuk memusuhi kaum lelaki, melainkan untuk menentang pendapat-pendapat dan adat yang kolot, yang tidak berguna lagi bagi kita di hari depan…”   
(yang kemudian dibukukan oleh J.H Abendanon dan diberi judul yang dalam bahasa Indonesia berarti Habis Gelap Terbitlah Terang. Door duisternis Tot Licht : 1991)

            Pertanyaannya kenapa Belanda begitu bangga sehingga ia tertarik untuk membukukan kumpulan surat-surat seorang Kartini? Bukankah penjajah tidak akan menurunkan derajat mereka sebagai penjajah? Kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia dimungkinkan terjadi akibat adanya dukungan dari pihak Belanda yang sengaja ingin menciptakan perpecahan serta pertentangan sebagai taktik untuk melemahkan semangat pemberontakan nasional.

              Frontalnya Ahli sosial dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa Kartini adalah seorang wanita yang putus asa, yang hanya menulis surat berisi curhat-curhatan pada salah seorang sahabatnya di Belanda, kemudian suratnya kebetulan dibukukan oleh seorang berkebangsaan Belanda dan disebar luaskan di Indonesia, maka diberilah gelar pahlawan emansipasi perempuan yang sampai sekarang tidak ada yang pernah melihat dimana dan bagaimana bentuk asli surat Kartini itu. Kembali pada putus asa, seseorang dikatakan ada dalam keputus asaan ketika ia mau tapi ia tidak mampu melakukan, tidak real fight atau melawan secara terang-terangan. Seorang Kartini hanya menulis tanpa memerangi penindasan yang ada.
Aneh sekali jika seorang Susilo Bambang Yudhoyono (misalkan), menulis surat dan ditujukan untuk salah seorang sahabatnya di luar negeri, lalu ia berkeluh kesah tentang bagaimana carut-marut negaranya. curhat-curhatan, tulis-menulis, balas-membalas surat, dan surat-surat itu dikumpulkan oleh seseorang untuk kemudian dibukukan lalu ia diberi gelar "Pahlawan Negara".

         Sedangkan bagaimana dengan kabar Cut Nyak Dien yang jelas-jelas ikut berperang mati-matian melawan Belanda pra kemerdekaan? Atau Martha Christina Tiahahu, Cut Muthia, Herlina Efendi, Putri Ta’dampali dari istana kerajaan Luwu, Colli Pujie, Emmy Saelan, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan yang mengukir prestasi spektakuler sebagai the change of social agent? (bahkan siapa mereka pun rasanya tidak pernah dibacakan guru, di buku manapun di SD saya dulu) alhasil jadilah anak negeri seperti saya ini. Apatis, Pragmatis! Siapa itu kartini dan kenapa harus kartini yang menjadi pahlawan emansipasi diantara puluhan bahkan jutaan perempuan negeri ini yang berjuang demi penindasan? Barangkali anak SD juga perlu banyak-banyak baca buku dan searching E-book tentang kepahlawanan Indonesia, daripada hanya bergantung pada gurunya di sekolah.
____________­­­­­­­­­­­____________
Karakter : 5339

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena Cinta Itu Aku menyesal (Cerpen)

Bukan Dirimu

Aku ingin Berpikir...